Labels

Showing posts with label AUDIO. Show all posts
Showing posts with label AUDIO. Show all posts

Monday, April 4, 2016

Prinsip kerja power Class D


Yah ketemu lagi….. seperti janji saya kemarin, yaitu prinsip kerja power Class D.
Sebenernya saya pemula dibidang Class D, Ya sedikit-sedikit tahu lah tentang cara kerjanya …  tp artikel kali ini bukan saya yang buat. Thanks to pak Kartino Surodipo (Facebook) yang telah berkenaan membuat artikelnya. kalau saya sih belum mampu membuat tutorialnya wkkkkk…
IRS-900D Class-D Amplifier Tutorial
Oleh: kartino@yahoo.com
Konsep Class-D Amplifier
Dalam satu dekade terakhir, dalam dunia audio power amplifier telah tersedia produk komersial untuk audio
amplifier jenis baru yaitu Amplifier Class-D. Berbeda dengan Class-A, B, AB, dimana sinyal masuk langsung
dikuatkan dalam bentuk sinyal suara asli, dalam Amplifier Class-D, dilakukan pencacahan sinyal suara yang
masuk namun masih tetap dalam metode analog, lalu sinyal dikuatkan. Pada tingkat akhir amplifier, sinyal
tercacah tersebut dikembalikan menjadi sinyal suara dengan menggunakan induktor-kapasitor (L-C) filter.
Konsep Class-D yang akan dibahas disini menyesuaikan dengan skema yang akan kita ambil sebagai contoh
design berikutnya, adalah desain Class-D dengan blok diagram adalah sebagai berikut:
dd
Secara singkat, self oscillating Class-D bekerja dengan internal loop feedback, dimana feedback loop
terdapat rangkaian R-C yang akan membuat rangkaian berosilasi sendiri, menjadi generator sinyal gergaji.
Sinyal gergaji ini akan dibandingkan dengan sinyal masukan audio oleh Comparator IC TL071 .
Sinyal keluaran dari Comparator IC berupa sinyal audio yang sudah dicacah oleh sinyal gergaji, sehingga
menjadi sinyal slope dengan komposisi waktu ON-OFF menyesuakan dengan level sinusoidal dari sinyal
masukan. Tegangan sinyal slope ini referensinya ke ground (GND) dan karakteristiknya masih belum
memenuhi kriteria masukan menuju gate driver IC. Sementara gate driver IC menggunakan referensi
tegangan ke –VCC. Jadi untuk itu diperlukan level shifter berupa PNP transistor 2N5401 dan Invert logic IC
CD4049.
Sementara gate driver juga membutuhkan dua sinyal input yaitu high-gate dan low-gate. Comparator IC yang
memiliki satu keluaran, oleh Invert logic IC digandakan menjadi dua keluaran, dimana satunya adalah
inverting hingga dihasilkanlah low-gate and high-gate output yang sesuai untuk masikan gate driver IC. Gate
driver IC siap menggerakkan mosfet power.
Output dari power mosfet yang secara ON-OFF identik dengan output Comparator. Dan sudah dijelaskan
sebelumnya output comparator sendiri menyesuaikan dengan input sinusoidal audio. Jadi dari comparator
menuju mosfet ini di atas kertas tidak akan terjadi distorsi. Tidak ada efek-efek khusus yang perlu
diperhatikan yang bisa menyebabkan cacatnya suara yang diakibatkan oleh amplifikasi sinyal.. Sementara
Comparator, Level shifter, Logic IC, dan gate driver IC bekerja pada tegangan 12 Volt, tegangan mosfet bisa
sangat variatif dan sangat lebar, bebas di tegangan SOA mosfet. Pada akhirnya, batas tegangan final ini
menjadi batas clipping sebuah ampli Class-D.
Output final mosfet ini agar kembali menjadi sinyal suara maka dilakukan dengan Low Pass Filter (LPF).
Dengan komposisi besar induktor dan kapasitor yang tepat maka sinyal slope tadi bisa di konversi kembali
menjadi sinusoidal. Memang tidak sempurna layaknya sinusoidal pada Class-A maupun Class-AB. Akan
tetapi harus diingat bahwa speaker adalah peralatan mekanika dinamis. Efek-efek fisika mekanika dari
speaker sendiri justru menyebabkan kesempurnaan output Class-D audio menjadi tidak berarti.
Implementasi Skema
Ada banyak rancangan skema Class-D Amplifier yang bisa ditemukan dari internet. Kali ini yang akan dibahas
dalam tulisan ini adalah Self Oscillating Cass-D Amplifier IRS-900D. Skema ini beredar di internet, dan cukup
bagus, bisa diimplementasikan dan memiliki kemampuan output sampai 900 Watt pada 4 ohm, sebuah
kemampuan yang cukup besar. Dipilihnya skema ini dikarenakan menyesuaikan dengan ketersediaan
komponen dan teknologi PCB yang tersedia di Indonesia.
Untuk membuat Class-D yang bagus dan bermutu tinggi sangat dibutuhkan mutu komponen yang bagus dan
lay-out PCB yang sesuai untuk high-frequency switching. Namun, untuk dengan keterbatasan ini walaupun
tidak bisa dihasilkan mutu yang sesuai dengan kriteria industri tapi masih sangat memuaskan bila
dibandingkan dengan kelas-kelas rakitan Class-AB yang banyak dijual di pasaran.
Berikut adalah skema yang mengaplikasikan design dan konsep yang sudah diterangkan di atas.
D900 schema
Gambar.2 – Skema Audio Amplifier Class-D IRS-900D
Cara bekerja skema di atas seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Rangkaian di atas memakai catu daya
+/- 100V DC. Disamping itu juga 12 Volt catu daya terpisah diperlukan untuk menggerakkan gate driver IC
IR2110. Pertimbangannya dibuat terpisah adalah karena akan lebih menyederhanakan skema.
Dengan rangkaian di atas, cocok untuk peruntukan dari subwoofer sampai mid-hi. Peruntukan tersebut
tidaklah mengecewakan, mengingat di pasaran kit rakitan tingkat 900 Watt memang umumnya diperuntukkan
untuk aplikasi Subwoofer sampai Mid-Hi.
Modifikasi dapat dilakukan untuk meningkatkan performa. Misalnya dengan menaikkan kemampuan frekuensi
osilasi. Dalam Class-d self Oscillation, kecepatan frekuensi osilasi ditentukan oleh efek kecepatan on-off dari
closed loop feedback yang melibatkan keseluruhan komponen di dalam feedback loop. Peningkatan bisa
dilakukan dengan mengganti OP Amp comparator dengan kemampuan lebih tinggi, misal dari Burr-Brown.
Dan yang utama adalah mosfet power, dimana bisa dipilih produk dengan gate capacitance yang rendah dari
IXYS, atau merek lain dengan generasi yang lebih maju. Yang harus diperhatikan adalah gate capacitance
yang terkecil dan kecepatan switching tertinggi, serta tentu saja SOA yang besar.
LPF Filter
LPF filter yang harus diperhatikan adalah inti harus cocok untuk frekuensi tinggi. Untuk sebuah Class-D
amplifier induktor tanpa air gap harus berjenis iron-dust. Iron dust mempunyai kemampuanmagnetik tertinggi
dengan losses terendah. Sayangnya jenis ini belum tersedia di pasar elektronika rakitan.
Alternatifnya adalah ferrite core. Meski juga masih susah ditemukan di pasar elektronika, tetapi ferrite core
bisa didapat dari inti PSU atau filter. Filter output PSU juga bisa digunakan. Besar penampang inti ferrite baik
EI maupun toroid sama saja, kurang lebih 1cm2 per 300W. Bila lebih tinggi output amplifier, bisa
menggunakan inti yang dirangkap. Lilitan harus serapat mungkin dengan inti
Namun, untuk bisa digunakan, jenis ferrite core harus dibuat air gap untuk menaikkan kemampuan megnetik,
yaitu dengan jalan memutus lingkaran toroid dengan gergaji besi atau memotong inti untuk EI Core. Karena
tidak ada data pabrikan maka untuk menentukan jumlah lilitan yang optimal hanya bisa dilakukan dengan
coba-coba. Jumlah lilitan dengan inti ferrite air gap harus dicoba dari yang tertinggi ke terendah antara 45-22
kali dengan kawal diameter 1 -1.5mm.
Fungsi air gap adalah meningkatkan kapasitas magnetik dari inti untuk menaikkan nilai saturasi. Bila tidak
cukup besar nilai saturasi dari inti besi maka koil induktor beserta inti akan menjadi sangat panas pada beban
tinggi. Namun dengan adanya air gap ini juga membuka peluang kebocoran elektromangetik (EMI) yang
mungkin keluar ke jaringan. Gambar dibawah adalah contoh material yang bisa digunakan:ddd
Untuk kapasitor karena bekerja pada frekuensi tinggi maka dipilih jenis non polar dengan kemampuan
charge-discharge yang tinggi dan juga tegangan kerja yang cukup tinggi. Kapasitasnya berkisar 680n – 1uF
600V non polar.dc
Nah sudah pada mengerti kan prinsip kerja Class D. Bagi yang mau membuat Class D D900 yang dibahas diatas, layout bisa ambil disini
https://www.dropbox.com/s/x4l5t6h4nrqwphr/irs%20900d%20full.pdf?dl=0
Punya saya juga sudah jadi… Disuply SMPS 75VDC. hasilnya ajiiibb + hoorrreegg wkkkkk ……d900


        MENGENAL PENGUAT AUDIO KELAS D

Print
Category: Listrik & Elektronika
Published Date Written by Nurhadi Budi Santosa
MENGENAL PENGUAT AUDIO KELAS D

Nurhadi Budi Santosa, M.Pd.
Widyaiswara PPPPTK BOE Malang

Abstrak

Tujuan dibuatnya penguat audio adalah untuk mereproduksi ulang sinyal audio masukan ke level volume tertentu sesuai keinginan dengan tingkat fidelitas yang tinggi. Penguat audio yang baik harus mempunyai tanggapan frekuensi antara 20 Hz – 20 KHz.
Penguat audio kelas D pertama kali dikenalkan pada tahun 1958, dan telah menjadi semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Penguat Audio kelas D pada dasarnya adalah switching-amplifier atau Pulse Width Modulation-Amplifier.
Penguat audio kelas D memiliki efisiensi yang jauh lebih baik dibandingkan penguat-penguat audio pendahulunya seperti penguat kelas A, kelas B dan kelas AB. Saat ini penguat audio kelas D mempunyai efisiensi 90% saat dibebani speaker. Sementara secara teoritis penguat audio Kelas D mempunyai efisiensi ideal 100%.
Penguat audio kelas A akan menguatkan seluruh siklus sinyal masukan. Penguat kelas B hanya menguatkan setengah siklus sinusoida sinyal masukan. Penguat audio kelas AB menguatkan sinyal lebih dari setengah siklus baik positif maupun negatif.
Penguat audio kelas D adalah sebuah amplifier switching atau PWM. Sinyal audio masukan digunakan untuk memodulasi sinyal pembawa PWM yang mendorong penguat akhir. Sebelum diumpankan ke speaker terlebih dahulu dilewatkan Low Pass Filter (LPF).

Kata Kunci : switching-amplifier, Pulse Width Modulation, Low Pass Filter, Penguat kelas D.

Latar Belakang Penguat Audio
            Tujuan dibuatnya penguat audio adalah untuk mereproduksi ulang sinyal audio masukan ke level volume tertentu sesuai keinginan dengan tingkat fidelitas yang tinggi, efisien dan distorsi yang rendah.
            Telah kita ketahui bersama bahwa frekuensi audio adalah 20 Hz – 20KHz. Oleh karena itu sebuah penguat audio yang baik harus mempunyai tanggapan frekuensi antara 20 Hz – 20 KHz. Kecuali penguat audio dengan keperluan khusus semisal penguat tweeter maupun sub woofer.
            Untuk kemampuan daya dari pengua audio disesuaikan dengan keperluan yang diinginkan. Daya penguat audio dapat hanya beberapa miliwatt untuk headphone, beberapa watt untuk penguat di radio maupun televisi, beberapa puluh watt untuk audio mobil dan ratusan bahkan ribuan watt untuk keperluan di luar ruangan, semisal untuk pentas di lapangan terbuka.

Sekilas Penguat Audio Kelas D
            Penguat audio kelas D pertama kali dikenalkan pada tahun 1958, dan telah menjadi semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Penguat Audio kelas D pada dasarnya adalah switching-amplifier atau Pulse Width Modulation-Amplifier.
            Penguat audio kelas D adalah penguat audio yang bekerja dengan prinsip binary-switches. Sejak digunakannya power MOSFET, maka menjadikan binary-switches lebih sempurna, sehingga tidak ada waktu transisi terbuang dan tidak ada daya terbuang saat masukan penguat ini nol.
            Penguat audio kelas D memiliki efisiensi yang jauh lebih baik dibandingkan penguat-penguat audio pendahulunya seperti penguat kelas A, kelas B dan kelas AB. Penguat audio kelas AB secara teoritis mempunyai efisiensi paling bagus sekitar 78,5% sebelum dibebani Speaker. Saat dibebani speaker efisiensinya bisa turun menjadi 50%. Saat ini penguat audio kelas D mempunyai efisiensi 90% saat dibebani speaker. Sementara secara teoritis penguat audio Kelas D mempunyai efisiensi ideal 100%.
            Efisiensi yang tinggi berarti akan menghasilkan disipasi daya yang rendah, dengan demikian daya yang terbuang relatif lebih rendah jika dibandingkan penguat kelas A, B maupun AB. Karena penguat audio kelas D bisa dibilang hemat daya maka penguat ini tidak membutuhkan pendingin (heatsink) yang besar dan catu daya yang besar pula.
            Dengan penggunaan pendingin dan catu daya yang relatif kecil, merupakan sebuah keuntungan utama dari penguat audio kelas D ini. Aplikasi penguat audio kelas D sekarang ini sudah sangat populer seperti untuk perangkat audio jinjing, home-theaters, penguat audio mobil dan sebagainya tanpa menghilangkan sisi fidelitasnya.
           
Penguat Audio Linier dan Kelas D
            Keluaran dari rangkaian penguat audio linier umumnya dihubungkan langsung ke speaker, walaupun beberapa kasus tertentu melalui kapasitor. Biasanya penguat audio linier menggunakan penguat akhir transistor yang dicatu dengan tegangan emitor-kolektor yang tinggi. Penguat audio linier bisa juga menggunakan Transistor MOS untuk tingkat penguat akhirnya seperti gambar berikut :
Gambar 1. Tingkat penguat akhir menggunakan CMOS

            Telah dijelaskan diatas bahwa ada 3 kelas penguat audio yang umum dipakai sebelum diterapkannya kelas D. Kelas penguat itu adalah kelas A, B dan AB.
            Kelas A – Penguat audio kelas A akan menguatkan seluruh siklus sinyal masukan. Sinyal masukan akan dikuatkan tanpa mengubah sedikitpun bentuk sinyal. Dapat dikatakan penguat audio kelas A tingkat akhirnya selalu bekerja untuk menguatkan siklus sinyal masukan. Dengan demikian di tingkat ini selalu ada arus bias yang mengalir ke perangkat output. Penguat kelas A ini memiliki linieritas paling bagus dan distorsi paling kecil. Akan tetapi mempunyai efisiensi paling rendah, hanya sekitar 20%.
            Kelas B – Penguat audio kelas B berbeda cara kerjanya dengan penguat audio kelas A. Tingkat penguat akhir pada kelas ini hanya menguatkan setengah siklus sinusoida sinyal masukan (satu menguatkan siklus positif dan yang satunya menguatkan siklus negatif). Dengan demikian jika tidak ada sinyal masukan maka di tingkat akhir tidak ada arus yang mengalir diperangkat output. Efisiensi penguat audio kelas B ini lebih baik dari kelas A, yaitu sekitar 50%. Namun demikian penguat ini memiliki kelemahan yaitu kurang linier, terutama dititik persilangan antara siklus positif dan siklus negatif.
            Kelas AB – Penguat audio kelas AB merupakan kombinasi antara kelas A dan kelas B. Saat ini penguat audio kelas AB yang banyak dan umum digunakan. Tingkat akhir pada penguat ini menguatkan sinyal lebih dari setengah siklus baik positif maupun negatif, namun tetap lebih kecil dari seluruh siklus. Sehingga bisa menghilangkan cacat silang pada pertemuan sinyal antara siklus positif dan negatif seperti yang ada di kelas B. Penguat audio kelas AB lebih linier jika dibandingkan penguat audio kelas B, tetapi efisiensi tidak berbeda yaitu sekitar 50%.
            Kelas D – Penguat audio kelas D adalah sebuah amplifier switching atau PWM seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dengan menerapkan model Switching dapat mengurangi rugi daya di penguat akhir dan memungkinkan mendapatkan efisiensi 90% - 95%. Sinyal audio masukan digunakan untuk memodulasi sinyal pembawa PWM yang mendorong penguat akhir. Sebelum diumpankan ke speaker terlebih dahulu dilewatkan Low Pass Filter (LPF) untuk menghilangkan frekuensi tinggi pembawa PWM nya.
Gambar 2. Blok dasar penguat kelas D
            Gambar diatas memperlihatkan skema blok penguat audio kelas D. Terlihat juga bentuk gelombang sesuai dengan proses yang terjadi di dalam rangkaian tersebut. Skema blok diatas menerapkan rangkaian umpan balik yang berasal dari keluaran untuk membantu kompensasi variasi tegangan pada masukan.

Cara Kerja
            Sinyal masukan adalah sinyal audio standar sinusoida dengan frekuensinya antara 20 Hz – 20 KHz. Selanjutnya sinyal audio ini akan di bandingkan / dikomparasikan dengan sinyal frekuensi tinggi (250KHz) yang berbentuk segitiga ataupun gigi gergaji, yang akhirnya menghasilkan sinyal PWM seperti terlihat pada gambar dibawah.

Gambar 3. Pemrosesan sinyal pada penguat kelas D

            Selanjutnya sinyal PWM ini diumpankan ke tingkat akhir dan dikuatkan oleh perangkat tingkat akhit (Mosfet), lalu di lewatkan rangkaian LPF dan keluaran LPF diumpankan ke speaker. Diharapkan keluaran LPF sinyalnya berbentuk sinusoida kembali.
            Generator gelombang gigi gergaji menghasilkan gelombang gigi gergaji yang berfrekuensi sekitar 10 kali lebih tinggi daripada frekuensi masukan sinyal audio. Gelombang gigi gergaji ini berfungsi untuk men-sampling sinyal audio.
            Pembanding atau Comparator, bertugas untuk mendigitalkan sinyal masukan audio dengan cara membandingkan antara sinyal audio dengan sinyal gigi gergaji. Hasil dari rangkaian pembanding ini adalah sinyal digital salinan dari sinyal masukan audio analog. Komponen frekuensi rendah dari sinyal digital mewakili sinyal masukan audio, sementara komponen frekuensi tinggi dari sinyal digital tidak digunakan atau diabaikan. Sinyal input dan output dari komparator seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 4. Perubahan sinyal audio di rangkaian pembanding

            Rangkaian Switching, meskipun keluaran dari rangkaian pembanding adalah representasi digital dari sinyal masukan audio, sinyal ini masih belum bisa langsung diumpankan ke Speaker. Oleh karena itu perlu dikuatkan dulu tegangan dan arusnya supaya bisa dibebani speaker. Tugas rangkaian switching disini adalah untuk menguatkan sinyal hasil keluaran dari rangkaian pembanding, agar supaya tegangan dan arusnya menjadi level tertentu sehingga dapat diumpankan ke speaker. Biasanya rangkaian switching ini menggunakan MOSFET. Bentuk gelombang masukan dan keluaran dari rangkaian switching seperti gambar berikut.

Gambar 5. Penguatan gelombang pada tingkat akhir

            Low Pass Filter (LPF), bertugas untuk menyaring komponen frekuensi rendah yang terpakai hasil keluaran rangkaian akhir switching. Keluaran dari LPF ini merupakan replika skala dari sinyal masukannya. Jaringan umpan balik negatif selalu ada yang menghubungkan LPF dan pembanding yang berfungsi untuk menekan kesalahan.

Keuntungan
Disipasi panas rendah
Ukuran tidak terlalu besar
Tidak terlalu berat
Efisiensinya tinggi

Kekurangan
Membutuhkan catu daya sangat bersih dan stabil
Respon frekuensi tinggi tergantung pada impedansi loudspeaker

Contoh Rangkaian

Gambar 6. Contoh rangkaian penguat audio kelas D

Kesimpulan
Penguat audio kelas D pertama kali dikenalkan pada tahun 1958, dan telah menjadi semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Penguat Audio kelas D pada dasarnya adalah switching-amplifier atau Pulse Width Modulation-Amplifier. Penguat audio kelas D mempunyai efisiensi 90% saat dibebani speaker. Sementara secara teoritis penguat audio Kelas D mempunyai efisiensi ideal 100%.
Penguat audio kelas A akan menguatkan seluruh siklus sinyal masukan. Penguat kelas B hanya menguatkan setengah siklus sinusoida sinyal masukan. Penguat audio kelas AB menguatkan sinyal lebih dari setengah siklus baik positif maupun negatif.
Penguat audio kelas D adalah sebuah amplifier switching atau PWM. Sinyal audio masukan digunakan untuk memodulasi sinyal pembawa PWM yang mendorong penguat akhir. Sebelum diumpankan ke speaker terlebih dahulu dilewatkan Low Pass Filter (LPF).


Referensi :

Gaalaas Eric, Class D Audio Amplifiers : What, Why, and How, http://www.analog.com/library/analogDialogue/archives/40-06/class_d.html, diakses tanggal 12 Januari 2015.

Honda Jun & Adams Jonathan, Class D Audio Amplifier Basics, International Rectifier, California, 2005.

International Rectifier, Class D Audio Amplifier Design, www.irf.com, diakses tanggal 10 Januari 2015.

Kartino, IRS-900D Class-D Amplifier Tutorial. Makalah, tidak dipublikasikan.

Maldonado Joseph & Vega Jeovany, Class D Power Amplifier, California Polytechnic State University, San Luis Obispo, 2010.

NN. Class D Power Amplifier, http://www.circuitstoday.com/class-d-power-amplifiers, diakses tanggal 12 Januari 2015.

Thursday, March 31, 2016

Modifikasi Power Amplifier OCL


Kronologi sang perakit amplifier pemula Power amplifier 150W OCL sebagian besar para penggemar elektronik pemula telah merakit jenis power amplifier ini, sebab harga nya murah, mudah dirakit, bisa langsung jadi, atau bahkan di toko elektronik sudah dikemas dalam bentuk KIT yang sudah siap dipasang(harga sekitar 60ribu), jadi lebih mudah lagi bagi pemula untuk membuatnya. Setelah rakitan sudah dilengkapi dengan power supply(Trafo ERA CT 32V/ 5Amp harga sekitar 150ribu dan elco 10.000uF/50V serta dioda bridge), dan tone control(kit seri-007 harga sekitar 25ribu), terus box merek profile yang harganya sekitar 75rbu, maka terbentuklah sebuah amplifier hasil rakitan sendiri, dan setelah dicoba........jreng....bunyi.....uih bangga dan dalam dirinya memuji sendiri, tapi kebanggaan tersebut tidak berlangsung lama, suara yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan hatinya,....kemudian tanya kesana kemari barangkali ada saran atau informasi yang menuntun untuk mencapai keinginan hatinya.
Apa sih sebenernya keinginan para perakit pemula dalam hatinya? Yah sudah jelas dan hampir 90% penggemar musik punya keinginan sama yaitu suara mantap, Bass besar, semendeg vokal linier, trebel halus yang sebagai pembanding biasanya suara musik dari stereo set merk Digitec atau polytron, mengapa? Karena kualitas suara dari merk tersebut memang banyak orang memujinya, walaupun belum memilikinya......apalagi kalau sudah memiliki sendiri....pasti jadi kebanggaan, lebih bangga lagi kalau hasil dari karya rakitan sendiri. Nah inilah selera para penggemar musik kita rata rata menginginkan suara seperti stereo set merek tsb, sebelum mencapai suara seperti itu, pasti perakit amplifier masih berusaha untuk mencapainya........  Informasi dan juga saran yang menunjang proyeknya sedang dibutuhkannya, sehingga berkunjung ketempat teman yang dianggap lebih tahu, semoga mendapat pencerahan, atau solusi. "Pasang GALAXY" poling dari teman 80% menyarankan penambahan kit tersebut, dan cihuwih........setelah ditambah galaxy suara lebih mantab..bass bertambah besar.......trebel jadi halus....Sudah puaskah????...Sudah banggakah???......sementara sudah....proyek sementara dianggap cukup sudah mumpuni, walaupun sebenarnya belum 100% sesuai keinginan hatinya.  Lalu mikir lagi, apakah salon belum memadai?(misalnya yang dimiliki speaker merek canon jenis fullrange 12 inci). 

Apa harus ganti speaker ya, berkunjung lagi ketempat teman yang memakai amplifier rakitan sendiri juga dan didengar kok lebih enakan, ternyata speaker yang dipakai berbeda dengan miliknya,  harga lebih mahal atau jenis yang berbeda dari yang dia miliki, saking penasaranya amplifier milik teman dipinjam dicoba dirumahnya begitu juga sebaliknya amplifier miliknya dibawa ke teman.........ehhh.....hasilnya sama seperti yang dia buat (yang dibuat dari jenis yang sama) sehingga semakin yakin kalau ganti speaker akan lebih bagus.  Setelah bertanya tentang harga speaker milik temannya ternyata harganya 2 kali dari speaker miliknya, sehingga dia berambisi untuk membeli speaker dengan harga yang 3 kali milik temannya, alias 5 kali dari harga speaker yang telah dimilikinya, dengan harapan suara yang diinginkan tercapai. Ambisinya diwujudkan beli speaker dengan harga 5 kali dari speaker semula, sampai sampai uang ditabungan habis bahkan sampai utang sama temannya, demi tercapai keinginannya.  Dengan keyakinan yang mantap dan sangat yakin akan berhasil, digantilah  speaker tersebut dengan harga yang sangat mahal,.....kemudian dengan membaca "Bismillahi rahmaani rahiim" dihidupkalah amplifier rakitannya........dan jreeeeengggg........apa yang terjadi............ cekelan bathuk..........sambil menggumam sendiri........kok podo wae........koyo sing murah? Deleg-deleg sambil kecewa.....yang semula wajahnya bersinar dengan penuh semangat, seketika berubah menjadi gelap, dan harapan musnah, dibunuhnya amplifier tersebut dengan kesal dan geram steker dari stop kontak PLN dicabut dengan kerasnya, dan hampir saja amplifier yang dibuatnya dibanting, karena sangat kecewa, sebab sudah dibiayai sangat mahal tapi toh tidak berhasil tercapai kenginannya.  Itulah sekelumit kronologi sang perakit pemula, yang dianggapnya sangat mudah untuk membuat amplifier sendiri, dan cerita diatas tidak hanya dialami oleh pemula saja, bahkan yang telah menyandang predikat perakit amplifier profesional juga, masih mengalami hal semacam itu, namun karena dengan pengalamannya dan ketekunan melalui berbagai percobaan dan pemodifikasian, dari berbagai sumber dalam mewujudkan kualitas suara yang menurut orang lain sudah layak, enak didengarkan.......ternyata perjalanannya sangat panjang dan membosankan, benarkah demikian? Benar....dan betul sekali..... Sebab saya sendiri pernah mengalaminya.....berbagai macam cara, berbagai macam produk dari toko, telah di aplikasikan dalam mencapai suara yang berkualitas, walaupun hasil akhirnya belum mencapai 100% hi-fi.  Suara yang berkualitas(Hi - Fi  = High Fidelity) bukan harus dari komponen yang mahal mahal, atau dengan penerapan modul yang dipasang banyak, bahkan dengan modul yang dipasang semakin banyak semakin memperburuk kualitas suara yang dihasilkan. Atau dengan power amplifier dengan daya keluaran yang besar......misalnya sampai 300 Watt, atau 500 Watt, itu bukan jaminan untuk menghasilkan suara yang berkualitas, lalu apa yang jadi referensi untuk menghasilkan suara berkualitas (hi  -  fi)?   Refrensi untuk menghasilkan suara berkualitas adalah, memendekan sistim dan memperbesar penguatan (GAIN) reproduksi suara, semakin pendek sistim, noise(desah) semakin rendah atau kecil, sehingga penambahan modul semakin banyak akan memperpanjang sistim reproduksi suara, akhirnya memperbesar nois/his atau suara mendesis seperti suara kompor penjual nasi goreng dirungoake kupinge plimpingen.

Bagaimana cara untuk memperoleh kualitas suara hi - fi? 


  Syarat mutlak yang harus dipenuhi yaitu, jumlah penguat (op-amp) sesedikit mungkin dan penguatan sistem (gain) sebesar mungkin dengan komponen jenis ALN (Amp Low Noise). Mahal dong jadinya, memang sekilas menurut daftar harga lebih mahal dibanding jenis lainnya, misalnya 3 kali lipat harganya....tapi dengan rating daya rendah contoh Power OCL 300W utk input defrensial sudah memakai ALN (2SA564) cuma belum dioptimalkan pengutanya, dalam rangkaian OCL tersebut TR A564 hanya diserahi untuk penguatan sebesar 6 kali saja (+8dB) yang sebenarnya mampu sebesar 100 kali (+20dB) dan tr D438 ini juga jenis ALN dan diserahi tugas sebagai penguat 10 kali (+10dB) padahal mampu 120 kali (+21dB) nah berbekal dari sini mengapa harus menambah penguat jika masih mampu dioptimalkan? Dan dimanakah yang dianggap mahal? Yang semula ke 2 tr tersebut bekerja sebesar 8 + 10  = 18dB(60 kali) kenapa kita tidak membuat ke 2 tr tersebut bekerja pada 41dB(12.600 kali) saja? Sayang sekali bukan? Penguatan yang sangat besar yakni 12.600 cuma dipakai 60........waduh sayang amat. Nah saya mempunyai skema untuk mengoptimalkan ke 2 transistor supaya bekerja lebih optimal inilah skemanya..............ini namanya modifikasi (mengubah).
        Untuk memodifikasi power OCL yang sangat signifikan adalah sebagai berikut, 
perhatikan skema asli kebanyakan power Amplifier OCL :
                        Perhatikan gambar skema diatas dengan cermat, apa memang anda memiliki power yang anda buat dan skemanya mirip dengan skema tersebut?
          Marilah kita modifikasi agar diperoleh suara yang mumpuni walaupun dengan komponen apa adanya tanpa mengganti apapun, yang penting masih normal.


                       Setelah anda membuat rangkaian tersebut diatas maka mulailah dipasangkan pada kit power amplifier yang anda punyai, lalu dimana untuk memasang rangkaian ini? Biar mudah perhatikan lagi gambar berikut.





                      Setelah anda memasangkan rangkaian tersebut sesuai dengan petunjuk maka skema yang telah dimodifikasi akan tampak seperti gambar berikut, cocokanlah dengan skema dibawah ini, jika anda benar dalam memasangkannya lihat dan perhatikan dengan seksama apakah benar benar sudah cocok?
                Seandainya ada perbedaan nilai komponen yang tidak sama persis, dan ada selisih sedikit tidak masalah, misal 33K dan 30K tidak perlu diganti, tetapi elco yang terpasang misal 47uF yang telah di modif 100uF harap disesuaikan karena nilai komponen selisihnya besar, atau 100%. Jika anda merasa telah mencermati dan sudah sesuai dengan skema tersebut, silakan diteliti ulang jangan2 solderan tidak menyambung dengan sempurna, atau bahkan ada kelebihan timah solder yang mbleber, dan mengakibatkan hubung singkat, bersihkan agar tidak terjadi masalah.
                Sekarang power hidupkan dengan disertai membaca "Bismillah" dan jeglug tanda aliran listrik masuk kepower, perhatikan ada suara apa setelahnya? Jika tidak ada suara @#%!&? yang aneh, berarti anda berhasil dalam memodifikasi, masukan audio misal DVD sebelumnya volume tutup dulu, perlahan lahan besarkan, adakah perubahan suara yang signifikan? Bass yang guwede banget, trebel yang huwalus, yang dinamakan spektakuler , 

                                     SUKSES BUAT ANDA dan SENANG BAGI SAYA.......

sebab ilmu yang saya bagikan bermanfaat bagi anda, terutama sekali bagi yang senang dan hobby elektronik..........sangat bermanfaat.

sumber:serbaacmatic.blogspot.com/cahyo pranoto

Tuesday, March 29, 2016

jenis audio menurut klasifikasi 

Class a/b (terpopuler)
2. Class D (terpopuler untuk sub)
3. Class A (terpopuler di audiophile)
4. Class X (terpopuler di kalangan SPL mania :P)

Kebanyakan power untuk mobile environment( car) menggunakan class a/b…

1.2. Apa Dasar pemilihan kelas?
Kelas dipilih berdasarkan topologi penempatan transistor, feedback yang dipakai dan sebagainya
yang sebagai user ,kita gak gitu perlu tau.
Kelas juga dipilih berdasarkan gelombang Sinus yang dibentuk smile emotikon (untuk class A dan B)

2.1
Class A
Audison thesis HV Venti
Overview :
– Kelas ampli pertama, hampir semua produk HOME Audio pake kelas ini.
– Suara yang konon “warm”
– Salah satu dari 2 Basic Class dari amplifier.
Amplifier yang memakai : Audison THESIS HV VENTI , TruTechnology A Cls00ass ,Sinfoni Desiderio, dst. dst. (termasuk, tenggorokan loh smile emotikon )

Pro :
1. Gelombang output (keluaran) murni gelombang sinus (seperti kita berbicara aja smile emotikon ), jadi amplifier ini diagung2kan oleh para sq ers yg menginginkan sinyal yang sempurna.
2. Distorsi yang kecil.
3. Tenaga(Power) yang cukup besar.

cons :
1. PANAS BOS!Karena topologi yang mengharuskan transistor dalam kondisi ON dan arus konstan mengalir ke transistor
2. Efisiensi sangat kecil, sekitar 15% secara praktek akibat panas dan sebagainya. namun efesiensi bisa ditingkatkan oleh penggunaan heatsink dan fan yang bagus smile emotikon
3. Harganya mahal euy, Hampir seluruh amplifier mobil class A berharga 2 digit
4. Kurang cocok untuk mendrive subwoofer akibat (pada umumnya) power class A berjalan pada mode hi voltage , jadi
untuk impedansi rendah yang butuh arus tinggi (hi current) kurang bertenaga.
5. Mayan boros aki, akibat constant current drawing pada no.1 smile emotikon

2.2
Class B
Overview :
– Kelas dengan efisiensi kedua tertinggi setelah kelas D
– Tidak cocok untuk audio
– Basic Class kedua
– Kalau mau dipaksa untuk audio harus menggunakan teknik push-pull untuk membentuk semi a/b tetapi tidak dianjurkan untuk mendrive sub.
Contoh Amplifier : – (tapi kalo gak salah Braxton pernah keluarin B series yang pake class B )
Pro :
1. Efisiensi sangat tinggi (70% an)

Cons :
1. Tidak cocok untuk audio operation

2.3
Class A/B
push pull class B yang telah dimodifikasi sehingga jeda antara gelombang phase negatif dan positif bisa direduksi
OVerview :
1. “Penggabungan” antara Sine Wave Output ala Class A dan efisiensi Class B
2. Sangat Cocok untuk penggunaan amplifier untuk car environment
3. Kelas Amplifier yang paling populer

Pro :
1. Panas yang dihasilkan relatif rendah (dibanding Class A)
2. Supply Listrik yang diperlukan tidak begitu tinggi
3. Harganya relatif murah
4. Semi Sine Wave mendekati Class A
5. Efisiensi cukup tinggi (sekitar 40-50%)
6. Suara yang terkontrol (terutama untuk drive sub)

Cons :
1. Gelombang mungkin sedikit rusak
2. Sangat bergantung pada power supply untuk tenaga
3. Sangat bergantung pada transistor
4. Heatsink harus bisa menghantarkan panas dengan baik

2.4
Class D
Orion 1200D
Overview:
– Amplifier dengan efisiensi tertinggi dan terhitung dingin smile emotikon
– Amplifier populer untuk SPL
– Merupakan amplifier yang menggunakan teknik PWM (pulse width modulator)
jadi signal analog, diubah ke digital, baru dijadikan analog lagi.

Pro :
1. VERY RECOMMENDED FOR SUB!
2. Efisiensi tertinggi (80-90%)
3. Tenaga yang cukup besar walaupun watt kecil akibat efisiensi yang tinggi
4. “dingin”
5. Supply Listrik tidak butuh terlalu besar
6. Transistor tidak cepat rusak karena transistor hanya ON pada saat ada sinyal, dan
off waktu tidak ada sinyal
7. umumnya lebih kecil dengan watt yang sama smile emotikon

Cons :
1. Tidak bisa untuk drive speaker karena adanya restriksi penggunaan filter
(karena pada aturan untuk kelas D, Low Pass Filter digunakan untuk merubah sinyal digital
menjadi analog, jadi penggunaan hi pass tinggi hampir tidak mungkin dilakukan)
2. Suara Bass kurang bisa terkontrol (buat yang ehem…sq abies!)
3. Gelombang sinus yang dihasilkan cenderung “kotak”
Pusing bacanya

Wednesday, June 6, 2012

Tuesday, June 5, 2012

panduan upgrade audio mobil

Jangan disangkal lagi, musik itu penting. Terutama, setelah lelah beraktifitas dan duduk di mobil, sebagai teman penghibur menyetel musik dari penyanyi idola dapat menyenangkan suasana selagi berkendara.

Namun sebelum mengetahui perangkat pendukung audio, tidak ada salahnya mengetahui beberapa jenis setting dalam dunia audio, tujuan agar anda tidak buang waktu dan biaya dalam menentukan setup audio yang anda harapkan. Pertama disebut, Sound Pressure Level (SPL) setup ini lebih menekankan suara rendah, bunyi bas akan terdengar lebih menonjol dibandingkan treble. Lalu, Sound Quality (SQ), aliran ini umumnya dipilih orang yang hobi mendengar musik klasik, jazz atau instrumental. Sebab, bila settingan benar, akan menghasilkan suara dinamis, dan jelas. Yang ketiga, merupakan kombinasi keduanya, yaitu SQL (Sound Quality Loud), tipe ini juga cukup popular lantaran bisa dinikmati sesuai selera atau mood.
Untuk membantu Anda mewujudkan suasana musik yang hidup di dalam kabin mobil, berikut daftar dari beberapa komponen inti yang dapat dijadikan rujukan untuk dibeli.
Amplifier / power
Perangkat ini biasa disebut sebagai power, fungsinya sebagai penangkap sinyal dari head unit dan memperkuat sinyal tersebut sebelum dikeluarkan ke masing-masing speaker dan sub woofer. Hasilnya, suara menjadi lebih baik, jelas dan kuat. Dengan mengadopsi power otomatis volume dapat di putar maksimal tanpa harus khawatir suara di speaker pecah seperti pada saat sebelum menggunakan power.
Sebaiknya pilih jenis amplifier 4 channel dengan daya yang cukup untuk mendukung kerja speaker dan sub woofer.

Head Unit / Player
Head unit adalah hal kedua yang harus diperhatikan jika ingin meng-upgrade audio di mobil Anda. Pemutar kaset atau cd ini umumnya berada di tengah panel dashboard. Dengan Head unit Anda dapat memutar musik pavorit, mengatur volume, dan memilih tampilan grafik yang terintegrasi dengan musik yang sedang dimainkan.
Biasanya head unit yang terpasang di beberapa mobil keluaran pabrikan, kurang mumpuni untuk memfasilitasi musik dengan kualitas baik. Oleh karena itu, mengganti dengan produk aftermarket merupakan cara bijak untuk memperoleh suara maksimal. Kelebihan lain pakai HU aftermarket, karena memiliki sejumlah fitur canggih. Diantaranya, tampilan grafik lebih atraktif, tuning equalizer terdiri 5 atau 10 band, pilihan mode suara, atau bahkan sekaligus terdapat layar monitor. Disamping itu head unit yang bagus mampu mengirimkan sinyal lebih baik ke speaker.
Seiiring dengan kemajuan teknologi dewasa ini beberapa head unit juga sudah dilengkapi output RCA untuk memudahkan pemasangan power, bahkan ada yang sudah tertabnam interface bluetooth, i-pod dan sebagainya.
Beberapa pilihan head unit ternama seperti Nakamichi, Kenwood, Eclipse, Alpine, Pioneer dan McIntosh.
Speakers
Karakter speaker yang baik dapat memberikan hasil suara seperti aslinya, misal penyanyi Louis Amstrong tidak akan sama seperti Whitney Houston. Hal itu disebabkan karena rentang vokal yang cukup terbatas dan berbeda.
Disini peran speaker juga tidak kalah penting, karena sehebat apapun instalatur melaukan setting, tapi jika speaker masih kondisi standar tidak akan mendapatkan kejernihan suara maupun suara keras.
Cukup banyak dan mudah untuk menemukan speaker aftermarket di pasaran, luangkan waktu sedikit agar mendapat speaker yang tepat. Tipe speaker tersedia mulai dari 2-way, 3-way atau 4-way. Terkadang dengan memilih yang jenis 4 way sangat membantu untuk efek surround di bagian belakang kabin. Namun bisa saja Anda memilih yang tipe lain asalkan di setting efek surround juga bisa dicapai.
Secara umum, ada beberapa jenis speaker; dual cone, co-axial, component (split), dan subwoofer. Speaker jenis ini memiliki desain dengan posisi woofer dan tweeter yang menyatu dalm satu unit speaker. Woofer untuk nada lebih rendah (bass) sedangkan tweeter menangani nada lebih tinggi (treble). Speaker coaxial pun terdiri dari jenis 2 way (tweeter , woofer), 3 Way (tweeter, midrange, woofer) dan ada juga yang 4 way (2 tweeter, midrange, woofer).

Speaker split atau component biasanya dijual 1 set namun terpisah antara tweeter dan woofer-nya. Berikut dengan cross over untuk memisahkan sinyal suara-suara tinggi untuk tweeter dan nada rendah ke woofer-hal ini memungkin kerja speaker lebih sempurna sesuai kemampuannya. Sehingga, tidak terdengar suara pecah dan sampai batas tertentu mencegah kerusakan.
Bagi Anda yang memilih settingan SPL untuk audio mobil, peranti Subwoofer sangat dibutuhkan. Penghasil dentuman bass ini tersedia dalam berbagi ukuran dan merek. Mulai dari 8 inchi, sampai 21 inchi. Sub woofer memang diciptakan untuk mengeluarkan nada frekuensi rendah (bass) dan terbukti handal.

Monday, February 13, 2012

Desain berbagai bentuk box subwoofer

Subwoofer Berbagai Kotak Lampiran Desain

  Berbagai desain bentuk box subwoofer

Kinerja subwoofer untuk menghasilkan suara bass rendah & juga padat, tentu saja didukung oleh subwoofer kandang atau kotak. Kotak subwoofer di mobil atau home theater biasanya memiliki ukuran yang berbeda, disesuaikan dengan rekomendasi dari data teknis dari subwoofer ini. Namun, setiap installer audio, memiliki gaya yang berbeda dalam desain kotak. Kotak terdiri dari berbagai jenis dan model. Desain, ukuran (dimensi) dan model subwoofer kotak biasanya jelas diperhitungkan pada saat pembuatan, bahkan hati-hati dirancang terlalu sering bertindak Installer. Jelas, setiap jenis kotak memiliki nilai kekuatan dan kelemahan, semua model kotak, jika diterapkan dengan benar, akan memberikan kinerja subwoofer menjadi sangat maksimal. subwoofer kotak tipe berikut ini adalah sering dan umum kita jumpai dalam penerapan peralatan audio. jenis adalah:
1. Sealed Lampiran
Model ini memiliki ruang kotak yang tidak berlubang. Bentuk kotak tertutup diyakini memberikan berdebar bass halus dan respon yang tepat. Nah membuat audio pecinta kosmetik biasanya menggunakan jenis kotak berikut dengan subwoofer terbalik instalasi (terbalik).
Kelebihan: Kotak Kecil, mampu pengerahan tenaga yang besar, respon yang tepat, mudah dibuat, untuk menghindari kesalahan dalam pembuatan.
Kekurangan adalah efisiensi kurang (membutuhkan daya penguat lebih) dari lampiran vented dan bass kurang rendah dibandingkan dengan lampiran vented disetel dengan benar DI ATAS frekuensi tala pelabuhan.

2. Vented Lampiran
Lampiran vented mirip dengan kandang tertutup dalam desain kecuali bahwa mereka menambahkan "port" yang panjang tertentu dan daerah tertentu di sekitar. Port ini, biasanya panjang pipa PVC, disetel ke frekuensi tertentu dengan variasi dalam dua parameter pelabuhan luas dan panjang. Dengan menambahkan port ini, gelombang belakang gerakan kerucut digunakan untuk memperkuat gelombang depan. Ketika dilakukan dengan benar sistem subwoofer menjadi lebih efisien daripada kandang tertutup sebanding atas frekuensi tuning pelabuhan. Namun, di bawah Pengaturan frekuensi pelabuhan woofer akan menjadi tidak stabil dan "membongkar" menyebabkan woofer untuk berosilasi keras, yang menyebabkan kegagalan prematur woofer jika didorong dengan tenaga berlebihan.
Keuntungan dari desain ini adalah peningkatan efisiensi dan perpanjangan frekuensi yang lebih rendah di atas frekuensi tala pelabuhan.
Kekurangan adalah desain yang lebih kompleks, kandang yang lebih besar dibandingkan dengan desain tertutup, penanganan daya yang rendah, dan akurasi sedikit kurang sementara.
3. Baffle "Lampiran" tak terbatas
Subwoofer menempel ke permukaan dengan memisahkan bagian depan gelombang dengan bagian belakang, bentuk ini tidak memerlukan ukuran besar. Model kotak biasanya sering digunakan pada jenis kendaraan sedan.
Kelebihan: Resonansi sangat rendah, penggunaan tempat tidak terlalu besar.
Kekurangan: Output terbatas, biasanya sangat sulit untuk memperkuat gelombang depan dari belakang.
4. Reflex bandpass
Tujuan dari sistem band pass adalah peningkatan efisiensi pada rentang kecil frekuensi. Desain ini juga membantu menyaring midbass yang tidak diinginkan dan frekuensi atas.
Keuntungan dari desain ini adalah efisiensi tinggi pada rentang kecil frekuensi dan karakteristik penyaringan. Keuntungan dari desain ini adalah efisiensi tinggi pada rentang kecil frekuensi dan karakteristik penyaringan. Kekurangan mengalami penurunan respon frekuensi, reproduksi kurang akurat, kompleksitas ekstrim dalam desain dan perakitan, ukuran kandang yang lebih besar, lebih besar woofer muat dan penanganan daya menurun.

5. Isobarik pemuatan
Isobarik sebenarnya bukan tipe kandang tetapi sebuah metode pembebanan woofer. Pemuatan isobarik dapat digunakan bersama dengan salah satu jenis kandang, kecuali baffle mungkin tak terbatas. Pemuatan isobarik terdiri dari dua woofer digabungkan bersama-sama dengan kandang pendek yang hanya cukup lama untuk mencegah dua woofer dari memukul satu sama lain. Para woofer dapat dipasang berhadapan, kembali ke belakang atau depan ke belakang. Namun penting untuk memiliki woofer menembak di fase satu sama lain. Untuk mencapai hal ini dengan woofer menembakkan depan ke depan atau kembali ke belakang salah satu lead speaker woofer harus dibalik sehubungan dengan woofer lainnya. Pemuatan isobarik biasanya digunakan bila ruang adalah dengan premi atau jumlah maksimum woofer ingin digunakan dalam volume tertentu ruang. Dengan isobarically memuat woofer, sekotak hanya setengah ukuran kotak woofer satu diperlukan. Misalnya, jika 12 "woofer membutuhkan kotak kaki kubik dua, 12 sama" woofer isobarically dimuat hanya membutuhkan sebuah kotak satu kaki kubik. Biaya desain ini, selain dua kali lipat biaya woofer, adalah pengurangan efisiensi sistem subwoofer dengan tiga desibel (jika keduanya woofer diberi kekuatan yang sama sebagai woofer tunggal), yang setara dengan mengurangi separuh penguat daya. Baru, desain kotak subwoofer kecil telah semua tapi menghilangkan kebutuhan untuk loading isobarik di audio mobil dan telah jatuh dari popularitas.
Keuntungan dari desain ini meningkat linearitas dalam gerakan pembicara, kebutuhan ruang yang lebih rendah, dan penanganan daya yang meningkat. Kekurangan meningkat biaya, peningkatan desain dan kompleksitas perakitan, dan penurunan efisiensi.

Read more: http://arjip57.quazen.com/shopping/consumer-electronics/various-subwoofer-box-enclosure-design/#ixzz1mIPlYJ90

cara mmudah membuat filter subwoofer dengan TI 072

Subwoofer filter juga dikenal sebagai filter lolos rendah, digunakan untuk dan ditemukan dalam banyak sistem audio mobil saat ini, home theater, atau sound system Multimedia. memungkinkan pengguna untuk secara eksklusif menetapkan frekuensi yang lebih rendah untuk subwoofer. Dengan tidak adanya subwoofer, filter lolos rendah dapat melakukan hal yang sama untuk belakang, speaker lengkap.
Setelah filter lolos rendah diatur oleh pengguna pada titik cutoff tertentu, semua frekuensi lebih rendah dari cutoff akan diteruskan, sedangkan frekuensi yang lebih tinggi akan dinonaktifkan atau disaring. Digunakan bersama dengan pass filter yang tinggi, seseorang dapat "menempatkan frekuensi" ke speaker yang tepat, menciptakan lingkungan suara total. Umumnya, frekuensi rendah seperti gitar bass dan bass drum yang kurang direproduksi melalui kecil coned speaker.
Sementara high-end speaker yang lebih kecil mungkin melakukan pekerjaan yang memuaskan bagi sebagian orang, untuk jantung berdebar, dada berdebar-bass, audiophiles banyak akan ingin pembicara dibuat untuk pekerjaan: subwoofer. Subwoofer didesain untuk menangani frekuensi yang lebih rendah, memberikan kepenuhan mengejutkan dan mendalam untuk setiap musik yang bersandar berat pada low-end frekuensi. Sebuah filter lolos rendah akan meningkatkan ujung bawah dari rentang suara dengan menjaga saluran bass dibersihkan dari frekuensi yang lebih tinggi sehingga subwoofer Anda mendapatkan hanya frekuensi itu dirancang untuk mereproduksi.
Dengan bermain dengan titik cutoff, Anda dapat menemukan bahwa sweet spot yang memungkinkan frekuensi midrange hanya cukup hingga menyebar amplop suara keluar. Dengan speaker depan penanganan frekuensi yang lebih tinggi, Anda dapat men-tweak secukupnya untuk kesenangan optimal.
dalam artikel ini saya akan membahas Filter Subwoofer sederhana dengan IC Op-Amp TL 072. Sirkuit ini dapat dikatakan cukup sederhana, karena membutuhkan hanya satu komponen aktif adalah IC op-amp. komponen aktif dalam rangkaian ini menggunakan satu IC Op-Amp TL 072. LM 072 dapat digantikan oleh lain IC Op-Amp adalah LM 062 dan TL 082. sebelum kotak subwoofer speaker, output dari sirkuit ini harus diberi makan pada akhir penguat (power amplifier) ​​seperti power amplifier mono Watt OCl 150. Seri ini dilengkapi dengan kontrol frekuensi, power supply menggunakan catu daya simetris 12 V, 0 V dan minus 12 V. menggunakan power supply yang cocok dengan riak halus dan regulator yang baik, hal ini untuk mencegah suara yang tidak diinginkan.
skematis sirkuit dapat dilihat di bawah ini:

untuk PCB dan tata letak komponen dapat dilihat di bawah ini: